Dunia kita sering kali mengukur nilai seseorang dari seberapa besar prestasi, jabatan, atau pencapaian yang bisa ia tunjukkan. Namun, dalam pandangan Tuhan, ukuran keberhasilan berbeda sama sekali. Tuhan tidak mencari orang yang paling hebat, tetapi orang yang mau setia. Bahkan ketika kemampuan terbatas, kesetiaanlah yang membuat kita berharga di mata-Nya.
Yesus pernah berkata dalam Matius 25:21, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Perhatikan bahwa yang dipuji bukanlah hamba yang paling cerdas atau berpengaruh, melainkan yang setia dalam hal kecil.
Seringkali kita merasa minder karena melihat orang lain lebih berbakat, lebih pandai berbicara, atau lebih berhasil. Tetapi Tuhan tidak membandingkan kita dengan orang lain, Ia hanya melihat hati kita. Kesetiaan dalam hal-hal sederhana seperti berdoa, melayani tanpa terlihat, atau tetap jujur ketika tidak ada yang memperhatikan, adalah hal yang berharga bagi Tuhan.
Kita juga bisa belajar dari kehidupan Musa. Musa awalnya merasa tidak mampu ketika Tuhan memanggilnya untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Ia berkata, “Siapakah aku ini?” (Keluaran 3:11). Tetapi yang Tuhan cari bukan kemampuan retorikanya, melainkan hati yang mau taat. Dari seorang gembala biasa, Tuhan pakai Musa menjadi pemimpin besar karena ia setia mengikuti perintah-Nya.
Begitu pula Rasul Paulus mengingatkan dalam 1 Korintus 4:2: “Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercaya.” Artinya, yang terutama dalam hidup orang percaya adalah kesetiaan, bukan kebesaran nama.
Kesetiaan adalah bukti kasih. Jika kita benar-benar mengasihi Tuhan, kita akan tetap setia sekalipun tidak ada yang melihat, sekalipun jalan terasa berat, sekalipun hasil belum tampak. Kesetiaan itu yang akan membuat hidup kita berbuah lebat pada waktunya.
Jadi, jangan merasa harus menjadi hebat untuk menyenangkan hati Tuhan. Asal kita setia, Tuhan bisa memakai hidup kita dengan cara yang melampaui dugaan.
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau tidak menuntut aku untuk menjadi hebat, tetapi Engkau hanya meminta aku setia. Ajarku untuk tidak lelah mengerjakan hal-hal kecil dengan setia, karena aku tahu Engkau melihat dan menghargainya. Pakailah hidupku untuk kemuliaan-Mu. Amin.