Di keluarga, di gereja, di kantor, bahkan di kolom komentar media sosial, perbedaan selalu hadir. Cara ibadah, pilihan musik, gaya memimpin, keputusan etis, dan detail teologi sering menjadi sumber gesekan. Pertanyaan pentingnya bukan apakah kita berbeda, melainkan apakah iman kita tetap bertahan di tengah perbedaan. Yesus berdoa, “Supaya mereka semua menjadi satu” (Yohanes 17:21). Kesatuan itu bukan keseragaman, melainkan hati yang sama mengasihi Kristus dan berjalan dalam kebenaran-Nya.
Pertama, pusatkan diri pada inti Injil. Ada perkara yang wajib kita pegang teguh karena menyangkut inti iman, seperti keselamatan oleh kasih karunia dalam Kristus. Ada juga perkara sekunder yang perlu disikapi dengan bijak. Paulus menasihati, “Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya” (Roma 14:1). Pegang teguh yang pokok, bersikap lapang pada yang tidak pokok, dan lakukan semuanya dalam kasih. Dengan cara ini, kita menolak dua ekstrem yang sama bahayanya, yaitu kompromi terhadap kebenaran atau kekerasan hati yang membelah tubuh Kristus.
Kedua, latihan kerendahan hati dan kelembutan. “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu, dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera” (Efesus 4:2-3). Iman yang matang tidak reaktif, tetapi responsif. Ia cepat mendengar, lambat berkata-kata, lambat marah, seperti diingatkan Yakobus 1:19. Dalam percakapan yang sulit, dengarkan dulu cerita dan pergumulan orang lain. Banyak kebuntuan pecah ketika kita merasa saling dipahami.
Ketiga, utamakan membangun, bukan memenangkan. Paulus menulis, “Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun” (Roma 14:19). Menang argumen belum tentu membangun iman. Tanyakan pada diri sendiri, apakah kata-kata ini menolong orang makin dekat kepada Kristus, atau sekadar meneguhkan ego pribadi. Jika tujuan kita benar, cara kita pun harus benar.
Keempat, gabungkan kebenaran dan kasih dalam kesaksian. “Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab… tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” (1 Petrus 3:15). Kebenaran tanpa kasih menjadi palu, kasih tanpa kebenaran menjadi kabur. Kristus memanggil kita berjalan dengan keduanya, sehingga terang Injil terlihat bukan hanya di isi pernyataan kita, tetapi juga di nada dan sikap kita.
Kelima, jaga meja persekutuan. Di era jarak dan label, duduk bersama untuk berdoa, membuka firman, dan berbagi roti adalah tindakan profetik. Persekutuan mematahkan prasangka dan memberi ruang bagi Roh Kudus menenangkan hati. Kolose 3:14 menegaskan, “Di atas semuanya itu kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” Di meja yang sama, kita belajar bahwa saudara seiman bukan musuh, melainkan rekan peziarahan.
Akhirnya, yakinlah bahwa kasih tidak mudah menyerah. “Kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1 Korintus 13:7). Iman yang bertahan di tengah perbedaan lahir dari hati yang terus disegarkan oleh kasih Kristus. Kita mungkin tidak selalu setuju, tetapi kita bisa tetap setia. Kita mungkin berbeda pendapat, tetapi kita tidak perlu berpisah hati. Ketika Kristus tetap menjadi pusat, perbedaan menjadi kesempatan untuk bertumbuh dalam kekudusan, kerendahan hati, dan kedewasaan rohani.
Tuhan Yesus, ajari kami memegang kebenaran-Mu tanpa kehilangan kasih-Mu. Rendahkan hati kami untuk cepat mendengar dan lambat berkata-kata. Pimpin kami mengejar hal yang mendatangkan damai sejahtera dan membangun. Teguhkan kesatuan Roh di antara kami, supaya dunia melihat Engkau yang hidup di tengah umat-Mu. Amin.