Di dunia yang semakin bising dengan opini, normal baru, dan standar sosial yang berubah-ubah, menjadi benar menurut firman Tuhan sering kali berarti menjadi tidak populer. Kita hidup di tengah masyarakat yang sering berkata, “Ikuti kata hati,” atau “Yang penting aku bahagia,” sementara Alkitab justru mengajarkan hal yang bertentangan dengan arus itu.
Kebenaran Tuhan tidak pernah menyesuaikan diri dengan tren. Dalam Yohanes 17:17, Yesus berkata, “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.” Ini berarti kebenaran yang sejati hanya ditemukan dalam firman-Nya, bukan dalam opini mayoritas atau logika budaya. Tapi kebenaran seperti ini tidak selalu menyenangkan untuk didengar.
Menjadi benar di hadapan Tuhan bisa membuat kita terlihat kuno, keras kepala, atau bahkan fanatik. Tapi itulah harga yang sering kali harus dibayar untuk tetap setia. Dalam Galatia 1:10, Paulus menulis, “Adakah ku cari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” Kita tidak bisa menyenangkan semua orang dan Tuhan sekaligus.
Yesus sendiri adalah contoh sempurna dari kebenaran yang tidak populer. Ia mengusik kenyamanan orang Farisi, membongkar kepura-puraan rohani, dan berbicara dengan kejujuran yang tajam. Banyak orang akhirnya meninggalkan-Nya karena perkataan-Nya terlalu keras. Tapi Yesus tidak kompromi. Ia tahu bahwa kebenaran sejati lebih penting daripada popularitas sementara.
Jangan takut untuk berbeda jika itu berarti setia pada Tuhan. Di zaman ketika kompromi dianggap bijak, keteguhan sering dianggap keras kepala. Tapi justru di situlah terang bersinar paling terang, saat gelap semakin pekat. Dalam Matius 5:10, Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.”
Tuhan tidak memanggil kita untuk jadi populer, tapi untuk jadi kudus. Tidak semua orang akan mengerti keputusan hidupmu yang berdasarkan firman Tuhan. Tapi jangan goyah. Kebenaran akan selalu menang, meski kadang harus jalan sendirian.
Tetaplah setia meskipun sendirian. Karena lebih baik berdiri sendiri dalam kebenaran, daripada ramai-ramai dalam kesesatan.