Setiap kali soal perpuluhan dibahas, pertanyaannya hampir selalu sama: apakah orang Kristen sekarang wajib 10 persen? Ada yang merasa dikejar rasa bersalah kalau belum 10 persen. Ada yang sebaliknya, menolak semua ajaran perpuluhan karena itu dianggap hukum lama.
Kalau kita lihat Alkitab dengan tenang, kita akan menemukan hal ini:
- Persepuluhan adalah ketetapan untuk bangsa Israel di bawah Taurat.
- Taurat sebagai sistem hukum sudah dibatalkan/digenapi dalam Kristus, sehingga tidak lagi mengikat gereja sebagai hukum keharusan.
- Persembahan (memberi) tetap diajarkan dan diwajibkan, tetapi bukan dengan angka paten 10%, melainkan dari hati yang rela.
Jadi bukan lagi soal angka sakral 10 persen. Mau 3%, 5%, 7%, 10%, 20%, 30% atau lebih, selama itu keluar dari hati yang mengasihi Tuhan, itulah yang berkenan. Bukan kewajiban mutlak 10%, melainkan ketaatan hati yang sudah disentuh anugerah.
Persepuluhan: Hukum Khusus Bangsa Israel
Dalam Perjanjian Lama, Israel diminta membawa sepersepuluh dari hasilnya (Imamat 27:30). Persepuluhan itu:
- Ditujukan untuk menopang suku Lewi dan ibadah di Kemah Suci/Bait Allah.
- Terikat dengan sistem imam Lewi, korban-korban binatang, dan negara Israel sebagai bangsa perjanjian.
Artinya, persepuluhan adalah bagian dari sistem ibadah dan hukum satu bangsa tertentu: Israel. Itu perintah Tuhan, tetapi kepada Israel di bawah Taurat, bukan kepada gereja dari segala bangsa di zaman Perjanjian Baru.
Taurat Dibatalkan sebagai Sistem, Kristus Menjadi Dasar Baru
Ketika Yesus datang, Ia menggenapi Taurat dan para nabi. Dengan salib dan kebangkitan-Nya, perjanjian yang lama berakhir sebagai sistem hukum yang mengikat, dan kita masuk dalam Perjanjian Baru.
- Ibadah tidak lagi terikat pada bait fisik di Yerusalem.
- Tidak ada lagi imam khusus dari suku Lewi, karena semua orang percaya disebut imamat yang rajani.
- Korban binatang sudah tidak perlu, karena Kristus adalah korban yang sempurna.
Karena itu, hukum-hukum Taurat tentang persepuluhan sebagai kewajiban bangsa Israel tidak lagi berdiri sebagai hukum wajib bagi umat percaya. Tetapi prinsipnya yaitu menopang pelayanan dan menolong sesama, tetap hidup dalam bentuk yang baru: persembahan kasih dari hati.
Yesus dan Para Rasul: Fokus Pindah Dari Angka ke Hati
Yesus pernah menegur orang Farisi karena mereka teliti membayar persepuluhan dari hal-hal kecil tetapi mengabaikan keadilan dan belas kasihan (Matius 23:23). Ia bukan sedang memuji “angka 10%”-nya, tetapi menelanjangi hati yang sibuk dengan hitung-hitungan, tapi kering dari kasih.
Tuhan tidak butuh angka yang membuat kita sombong. Dia mencari hati yang mengasihi.
Di Perjanjian Baru, bahasa tentang memberi berubah:
“Hendaklah masing-masing memberi menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita”
(2 Korintus 9:7)
Perhatikan:
- Menurut kerelaan hati, bukan angka paten.
- Bukan karena paksaan, jadi bukan kewajiban mutlak 10%.
Kalau seseorang sungguh tulus hanya mampu memberi 3%, 5%, atau 7% dengan sukacita, itu lebih berkenan di hadapan Tuhan daripada 10% yang diberikan dengan terpaksa, takut, atau merasa dipalak. Sebaliknya, kalau ada yang terdorong memberi 15%, 20%, bahkan 30% dengan penuh sukacita, itu pun sangat alkitabiah. Yang Tuhan lihat pertama-tama bukan besar persentasenya, tetapi hati di baliknya.
Prinsip Perjanjian Baru: Teratur, Proporsional, Bukan Seragam
Paulus menulis:
“Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing menurut keadaannya menyisihkan sesuatu…”
(1 Korintus 16:2)
Ada dua prinsip penting:
- “Masing-masing” – ini urusan pribadi dengan Tuhan, bukan dipukul rata.
- “Menurut keadaannya” – jadi bukan semua harus sama persentasenya.
Artinya:
- Ada orang yang penghasilannya kecil; mungkin 5% saja sudah perjuangan besar. Tuhan melihat air mata dan kesetiaannya.
- Ada orang yang sangat berkecukupan; buat dia, 10% justru terlalu kecil. Roh Kudus bisa menggerakkan dia memberi 15%, 20%, atau lebih.
Perjanjian Baru memberi ruang bagi pimpinan Roh Kudus, bukan angka seragam. Gereja boleh memakai 10% sebagai patokan latihan atau contoh, tetapi bukan sebagai hukum mutlak yang mengikat semua orang.
Anugerah Itu Mahal, Jadi Memberi pun Jadi Sukarela
Paulus mengingatkan jemaat Korintus:
“Kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin sekalipun Ia kaya…”
(2 Korintus 8:9)
Perhatikan, Paulus tidak berkata, “Ingat ya, harus 10%.” Ia justru mengarahkan mereka ke salib. Logikanya begini:
- Kalau kita sudah menerima pemberian paling mahal dari Kristus,
- Maka memberi kembali kepada-Nya bukan lagi terasa seperti kewajiban dingin,
- Melainkan sebagai hak istimewa dan wujud syukur.
Dari sini biasanya bukan orang jadi pelit, tapi justru lebih murah hati. Jadi:
- Kalau hari ini kamu memberi 3% dengan tulus, itu bisa sangat berkenan.
- Kalau kamu mampu dan rela memberi 7%, 10%, 15%, atau 30% tanpa terpaksa, itu pun sangat berkenan.
- Yang tidak alkitabiah adalah memberi karena takut manusia, atau tidak memberi sama sekali padahal mampu dan tahu Tuhan menegur hati nuranimu.
Kenapa Gereja Tetap Perlu Mengajar Tentang Persembahan
Kalau Taurat sebagai sistem sudah dibatalkan, kenapa gereja masih bicara soal memberi?
Karena di Perjanjian Baru pun:
- Pekerjaan Tuhan perlu dibiayai. Pelayan penuh waktu, fasilitas ibadah, penginjilan, misi, diakonia semua memakai uang.
- Memberi melatih kita lepas dari mamon. Ketika kita memberi, kita sedang mematahkan belenggu cinta uang.
- Memberi menyatakan bahwa Tuhan Pemilik, kita hanya pengelola.
- Memberi adalah ibadah. Paulus menyebut pemberian jemaat sebagai korban yang harum (Filipi 4:18).
Namun saat mengajar, gereja harus jujur:
- Perjanjian Baru tidak menetapkan angka wajib 10% untuk orang percaya dari segala bangsa.
- Yang diwajibkan adalah sikap murah hati, teratur, dan rela.
- Angka (3%, 5%, 10%, 20%, dll) hanyalah alat latihan, bukan ukuran keselamatan, kekudusan atau tiket berkat.
Kesimpulan
Jadi, apakah persepuluhan masih berlaku?
- Sebagai hukum wajib 10% untuk semua orang percaya: tidak. Itu adalah ketetapan khusus bagi bangsa Israel di bawah Taurat, dan Taurat sebagai sistem sudah dibatalkan/digenapi di dalam Kristus.
- Sebagai pola atau contoh untuk melatih memberi: boleh saja, selama diajarkan bukan sebagai hukum mati, melainkan sebagai sarana pertumbuhan.
Yang Alkitab ajarkan kepada kita sekarang adalah:
- memberi dengan teratur,
- memberi secara proporsional “menurut keadaanmu”,
- memberi dari hati yang rela, bukan karena paksaan angka 10%.
Tuhan tidak sedang mengejar angka 10%-mu. Tuhan sedang mengejar hatimu.
Kalau hati sudah milik Tuhan, entah kamu memberi 3%, 5%, 7%, 10%, 20%, atau 30%, semua itu akan menjadi persembahan yang harum di hadapan-Nya bukan karena persentasenya, tetapi karena kasih yang menggerakkanmu.