Salah satu teladan kerendahan hati terbesar dalam Alkitab datang dari Yohanes Pembaptis. Ia dikenal sebagai nabi yang berani, suara yang berseru-seru di padang gurun, dan orang yang mempersiapkan jalan bagi Mesias. Namun, meskipun ia memiliki banyak pengikut dan dikenal banyak orang, Yohanes tidak pernah menganggap dirinya pusat perhatian. Ia tahu siapa dirinya dan siapa yang harus ditinggikan.
Ketika murid-muridnya khawatir bahwa orang mulai beralih mengikuti Yesus, Yohanes tidak merasa tersaingi. Sebaliknya, ia menjawab dengan luar biasa: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yohanes 3:30). Kalimat ini adalah bukti kerendahan hati yang murni. Yohanes sadar bahwa tujuan pelayanannya adalah menunjuk orang kepada Kristus, bukan menarik perhatian kepada dirinya sendiri.
Kerendahan hati Yohanes juga terlihat ketika orang bertanya apakah ia Mesias. Dengan tegas ia berkata, “Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya” (Yohanes 3:28). Yohanes tidak mengambil kemuliaan yang bukan miliknya. Ia tidak mencari pengakuan manusia, melainkan hanya setia menjalankan tugas yang Allah berikan.
Dalam kehidupan kita, sering kali godaan untuk merasa lebih penting daripada orang lain bisa muncul. Kita ingin dilihat, dihargai, bahkan dipuji. Namun, kerendahan hati sejati berarti sadar bahwa semua yang kita miliki hanyalah anugerah Tuhan. Talenta, pelayanan, bahkan kesempatan untuk melayani, semuanya berasal dari Dia. Seperti yang tertulis: “Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Apakah yang engkau punya yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri seolah-olah engkau tidak menerimanya?” (1 Korintus 4:7).
Yohanes tidak hanya mengajarkan kerendahan hati dengan kata-kata, tetapi dengan sikap hidup. Ia rela menyingkir agar Yesus yang ditinggikan. Itu pelajaran berharga bagi kita. Hidup kita seharusnya menjadi cermin yang memantulkan Kristus, bukan diri kita. Semakin orang mengenal kita, semakin mereka harus diarahkan untuk mengenal Yesus lebih dalam.
Mari kita belajar dari Yohanes Pembaptis: rendah hati bukan berarti rendah diri, melainkan menempatkan diri sesuai dengan kehendak Allah. Rendah hati berarti menyadari bahwa segala kemuliaan hanya milik Tuhan.
Tuhan, ajari aku memiliki hati yang rendah seperti Yohanes Pembaptis. Jangan biarkan aku mencari kemuliaan bagi diriku sendiri, tetapi jadikan hidupku alat untuk meninggikan nama-Mu. Biarlah setiap langkahku selalu mengarahkan orang kepada Kristus. Amin.