Di era media sosial, mudah sekali kita tergoda untuk membandingkan hidup kita dengan orang lain. Melihat foto liburan, kesuksesan karier, atau kebahagiaan keluarga orang lain sering membuat kita merasa kurang atau tertinggal. Namun, Tuhan tidak pernah memanggil kita untuk menjadi salinan orang lain. Dia menulis cerita yang unik bagi setiap anak-Nya, dengan alur, waktu, dan tujuan yang berbeda.
Dalam Yohanes 21:21-22, ketika Petrus bertanya tentang nasib Yohanes, Yesus menjawab, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.” Jawaban Yesus ini jelas fokuslah pada panggilan yang Tuhan beri untuk hidup kita, bukan membandingkannya dengan orang lain.
Membandingkan hidup hanya akan mencuri damai sejahtera. Kita bisa kehilangan rasa syukur atas apa yang sudah Tuhan kerjakan karena terlalu sibuk melihat pencapaian orang lain. Padahal, Mazmur 139:16 mengingatkan bahwa Tuhan sudah menulis setiap hari dalam hidup kita sebelum satu pun ada. Artinya, tidak ada yang kebetulan dalam perjalanan kita.
Setiap orang punya musim hidup yang berbeda. Ada yang lebih dulu mencapai mimpinya, ada yang baru memulainya di usia yang lebih matang. Tuhan bekerja sesuai waktu-Nya yang sempurna. Yang terpenting adalah kita setia melangkah di jalur yang Dia tetapkan.
Jika saat ini kamu merasa tertinggal atau hidupmu tidak sehebat orang lain, ingatlah: Tuhan tidak mengukur nilai kita dari kecepatan atau pencapaian dunia, tetapi dari kesetiaan kita kepada-Nya.
Tuhan, terima kasih karena Engkau menulis cerita hidupku dengan penuh kasih. Tolong aku untuk berhenti membandingkan diriku dengan orang lain dan belajar bersyukur atas perjalanan yang Engkau beri. Ajarku untuk setia melangkah di jalan-Mu, percaya bahwa rencana-Mu adalah yang terbaik untukku.