Ada perbedaan besar antara mengetahui tentang Tuhan dan percaya penuh kepada-Nya. Banyak orang tahu ayat Alkitab, hafal cerita-cerita iman, bahkan bisa mengutip firman dengan fasih. Tetapi ketika badai hidup datang, sering kali yang tampak adalah apakah kita benar-benar percaya atau hanya sekadar tahu.
Yakobus 2:19 berkata, “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.” Ayat ini mengingatkan kita bahwa pengetahuan semata tidak cukup untuk menyelamatkan. Percaya berarti melibatkan hati, keberanian untuk bersandar, dan tindakan nyata yang sesuai dengan iman kita.
Contoh yang jelas terlihat dalam hidup Abraham. Ia tahu Tuhan berjanji akan memberinya keturunan, tetapi imannya diuji saat ia diminta mempersembahkan Ishak (Kejadian 22:1-18). Secara pengetahuan, hal itu mustahil masuk akal. Namun Abraham percaya pada karakter Tuhan yang setia, sehingga ia berani melangkah. Dari situlah ia disebut bapa orang beriman.
Banyak dari kita berhenti di level “tahu”. Kita tahu Tuhan sanggup menyembuhkan, tetapi kita masih lebih percaya pada kekhawatiran. Kita tahu Tuhan menyediakan, tetapi hati kita tetap cemas soal keuangan. Kita tahu Tuhan memimpin, tetapi kita tetap memegang kendali seolah kita lebih tahu jalan terbaik.
Yesus pernah berkata kepada Marta dalam Yohanes 11:40, “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” Di sini, Yesus tidak berkata “jikalau engkau tahu”, tetapi “jikalau engkau percaya”. Ada janji yang hanya terbuka ketika kita berani melangkah dengan iman, bukan hanya pengetahuan.
Iman sejati bukanlah sekadar informasi, tetapi transformasi. Kita tidak dipanggil hanya untuk tahu siapa Allah, melainkan untuk hidup percaya dan bersandar penuh kepada-Nya. Pengetahuan bisa menambah wawasan, tetapi percaya kepada Tuhan akan mengubah arah hidup kita.
Tuhan, aku tidak mau hanya sekadar tahu tentang-Mu. Tolong aku untuk sungguh-sungguh percaya, menyerahkan hatiku, langkahku, dan seluruh hidupku ke dalam tangan-Mu. Ajar aku hidup dalam iman yang nyata, bukan hanya pengetahuan. Amin.