Banyak orang Kristen merasa tidak layak membagikan imannya karena merasa belum cukup baik. Belum kudus, belum sempurna, masih jatuh-bangun dalam dosa. Tapi mari kita renungkan: apakah benar dunia ini butuh orang yang sempurna? Atau justru butuh orang yang mau jujur tentang kelemahannya dan menunjukkan bagaimana Tuhan terus bekerja di dalamnya?
Yesus tidak pernah meminta kita menjadi sempurna dulu sebelum bersaksi. Bahkan, ketika Yesus menyembuhkan orang kerasukan di daerah Gerasa, orang itu ingin ikut bersama-Nya. Tapi Yesus berkata, “Pulanglah ke rumahmu dan ceritakanlah segala sesuatu yang telah diperbuat Allah atasmu” (Lukas 8:39). Ia baru saja disembuhkan. Ia belum belajar teologi. Tapi ia sudah cukup untuk menjadi saksi.
Saksi sejati bukanlah orang yang tak bercela. Tapi ia adalah seseorang yang bisa berkata, “Aku pernah jatuh, tapi Tuhan mengangkatku.” Dunia tidak butuh pertunjukan kesempurnaan yang palsu, tetapi cerita nyata tentang kasih dan pemulihan.
Dalam 2 Korintus 4:7 tertulis, “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” Kita semua adalah bejana tanah liat, retak, rapuh, tapi tetap dipakai Tuhan untuk menunjukkan kemuliaan-Nya.
Bahkan Petrus, murid Yesus yang pernah menyangkal tiga kali, dipakai untuk memberitakan Injil dengan kuasa. Kesaksiannya justru kuat karena orang tahu masa lalunya. Kesaksian bukan soal membuktikan betapa baiknya kita, tapi betapa baiknya Tuhan.
Jangan menunggu sempurna untuk bersaksi. Dunia sedang kelaparan akan harapan. Dan Tuhan mau memakai hidupmu dengan segala kekuranganmu untuk menyatakan kasih dan kuasa-Nya.