Dalam dunia yang penuh kebisingan, kita sering diajarkan bahwa iman harus selalu aktif, keras, dan terlihat. Kita berpikir bahwa membela Tuhan berarti harus berbicara, berdebat, atau menunjukkan tindakan besar. Tapi tahukah kamu, dalam beberapa situasi, diam pun bisa menjadi bentuk iman yang sangat kuat?
Dalam Keluaran 14:14, saat bangsa Israel dikejar oleh tentara Mesir dan panik tak berdaya di tepi Laut Teberau, Musa menyampaikan firman Tuhan, “Tuhan akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.” Di momen genting itulah Tuhan justru meminta umat-Nya untuk tenang. Diam, bukan sebagai tanda menyerah, tetapi sebagai ekspresi kepercayaan penuh bahwa Tuhan yang akan bertindak.
Diam bukan berarti pasif. Diam bisa berarti menahan diri untuk tidak membalas ketika difitnah. Diam bisa berarti menunggu dalam doa ketika belum melihat jawaban. Diam bisa berarti memilih untuk tidak mengikuti arus dunia meski disudutkan. Dalam Yesaya 30:15 tertulis, “Dalam bertobat dan tinggal diam terletak keselamatanmu, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”
Ada saatnya Tuhan meminta kita bergerak, tapi ada pula saat ketika Tuhan memanggil kita untuk percaya dalam diam. Di titik ini, iman kita sedang diuji, bukan oleh seberapa banyak kita lakukan, tetapi seberapa dalam kita mempercayai-Nya.
Yesus sendiri, saat menghadapi tuduhan palsu, tetap diam di hadapan Pilatus (Matius 27:14). Ia tidak membela diri. Ia tahu siapa yang membenarkannya, dan Ia menyerahkan semuanya kepada Bapa.
Mungkin hari ini kamu sedang menunggu jawaban doa. Mungkin kamu sedang dilecehkan atau disalahpahami. Tapi jangan remehkan kuasa dari diam yang percaya. Dalam keheningan itu, Tuhan sedang bekerja. Dalam ketenangan itu, imanmu sedang bersinar.
Ketika dunia memaksamu untuk ribut, Tuhan bisa saja berkata, “Diamlah. Aku yang akan bertindak.”