Setiap orang pasti punya kelemahan. Ada yang merasa kurang percaya diri karena latar belakangnya, ada yang minder karena pendidikan, ada pula yang merasa tidak layak dipakai Tuhan karena dosa masa lalu. Namun kabar baiknya, Tuhan tidak memanggil orang yang sempurna, melainkan Ia menyempurnakan orang yang dipanggil-Nya.
Ketika Petrus dipanggil Yesus untuk berjalan di atas air, ia sempat berhasil melangkah. Tetapi begitu ia mengalihkan pandangan kepada angin yang ribut, ia mulai tenggelam (Matius 14:28-30). Itu gambaran yang sangat jelas bahwa fokus kita menentukan langkah. Selama Petrus menatap Yesus, ia mampu berjalan di atas sesuatu yang mustahil. Namun ketika ia fokus pada kelemahan dan keadaan, ia jatuh.
Begitu pula dalam hidup kita. Saat kita terlalu sibuk memikirkan kekurangan, kita mudah goyah dan menyerah. Tetapi ketika mata kita tertuju pada Kristus, kita menemukan kekuatan yang tidak kita miliki sendiri. Paulus menulis, “Tetapi Allah memilih yang bodoh bagi dunia untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan Allah memilih yang lemah bagi dunia untuk memalukan orang-orang yang kuat” (1 Korintus 1:27). Dengan kata lain, Tuhan sengaja memakai kelemahan kita supaya kuasa-Nya nyata.
Ingatlah Musa yang gagap, tetapi dipakai untuk memimpin bangsa Israel. Atau Daud, seorang gembala muda yang dipakai Tuhan untuk mengalahkan Goliat. Mereka tidak sempurna, tetapi mereka menaruh percaya pada Allah yang sempurna. Kelemahan kita bukan alasan untuk berhenti, melainkan kesempatan bagi kuasa Kristus dinyatakan. Paulus bahkan dengan berani berkata, “Sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Korintus 12:9).
Fokus pada Kristus berarti percaya bahwa Ia yang memanggil kita juga yang akan memperlengkapi. Saat kita merasa tidak cukup, sebenarnya kita sedang berada di posisi terbaik untuk mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Maka jangan ijinkan kelemahanmu menutup mata dari anugerah yang besar.
Hari ini, mari berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Jangan lagi terpaku pada apa yang tidak kita miliki, tetapi pandanglah pada Yesus yang sudah memberi segalanya di kayu salib. Ketika kita melihat Dia, kita akan menemukan kekuatan untuk melangkah, keberanian untuk taat, dan damai sejahtera yang melampaui segala akal.
Tuhan Yesus, ajari aku untuk selalu memandang kepada-Mu dan bukan pada kekuranganku. Terima kasih karena Engkau sanggup memakai hidupku apa adanya untuk kemuliaan-Mu. Penuhi aku dengan iman dan keberanian untuk melangkah bersama-Mu. Amin.