“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
(Matius 11:28)
Sering kali kita merasa Tuhan hanya bisa memakai orang-orang yang semangat, kuat, dan penuh api. Tapi Alkitab berkali-kali menunjukkan bahwa Tuhan justru senang memakai hati yang lelah, yang datang dengan kejujuran dan kerendahan.
Pikirkan Elia. Seorang nabi besar yang pernah berdoa dan api turun dari langit. Tapi setelah itu, dia lari ketakutan, duduk di bawah pohon, dan berkata, “Cukuplah, ya TUHAN, ambillah nyawaku” (1 Raja-raja 19:4). Ia lelah secara fisik dan emosional. Tapi justru saat itu Tuhan mendekat, memberi makanan, dan membisikkan suara lembut yang menguatkannya.
Lelah bukan tanda bahwa kita gagal. Lelah adalah sinyal bahwa kita manusia, dan kita butuh Tuhan.
Tuhan tidak mencari kekuatanmu. Dia mencari hati yang berserah. Bahkan saat engkau tidak bisa berkata-kata dalam doa, saat napasmu hanya cukup untuk berbisik “Tuhan, tolong…”, itu pun cukup bagi-Nya untuk bekerja.
Jangan pikir kamu harus ‘pulih’ dulu baru bisa dipakai Tuhan. Tuhan bisa memakai sisa-sisa kekuatanmu. Kadang justru melalui kelemahanmu, kuasa-Nya nyata. Hati yang lelah tetap bisa menguatkan orang lain. Hati yang lelah bisa bersaksi. Hati yang lelah pun bisa berjalan bersama Tuhan, satu langkah kecil setiap harinya.
Jika kamu sedang lelah hari ini, jangan menyerah. Datanglah kepada-Nya. Letakkan bebanmu. Biarkan Dia memulihkan. Karena di tangan Tuhan, bahkan hati yang hampir habis pun tetap berharga dan berguna.