Setiap orang suka menerima kasih, tetapi tidak semua orang mampu memberi kasih yang tulus tanpa mengharapkan imbalan. Kasih sejati selalu memberi, bukan menuntut. Kasih yang tidak egois adalah kasih yang melihat kebutuhan orang lain lebih penting daripada kepentingan diri sendiri, sebagaimana teladan yang Yesus tunjukkan.
Dalam 1 Korintus 13:4-5 dijelaskan, “Kasih itu sabar, kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.” Kasih yang sejati tidak berpusat pada ego, tapi pada pengorbanan. Ia tidak bertanya, “Apa yang akan aku dapatkan?” melainkan, “Apa yang bisa aku berikan?”
Yesus adalah wujud kasih yang tidak egois. Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, bahkan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan (Markus 10:45). Kasih-Nya tidak menuntut balasan, tidak memaksa, dan tidak pernah berhenti meski sering diabaikan. Di kayu salib, Yesus berdoa bagi mereka yang menyalibkan-Nya, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34). Inilah puncak kasih yang rela memberi tanpa pamrih.
Mengasihi dengan cara ini tidak selalu mudah. Ego sering membuat kita ingin dicintai dengan cara tertentu, dihargai, dan diakui. Namun, kasih sejati menuntun kita untuk belajar memberi lebih banyak daripada menerima. Ketika kita mengasihi orang lain, kita melakukannya bukan karena mereka pantas, tapi karena Tuhan terlebih dahulu mengasihi kita (1 Yohanes 4:19).
Bagaimana kita bisa memiliki kasih yang tidak egois?
- Belajar memandang dari perspektif orang lain. Kasih sejati lahir dari empati.
- Mengutamakan pengampunan. Ego sering melukai, tapi kasih memulihkan.
- Menjalani kasih sebagai tindakan, bukan hanya perasaan. Kasih tidak diukur dari kata-kata manis, tetapi dari pengorbanan nyata.
Kasih yang tidak egois adalah kekuatan yang mengubahkan. Ia dapat meruntuhkan tembok kebencian, memulihkan relasi yang retak, dan membawa damai di tengah dunia yang penuh kepentingan diri. Bahkan tindakan kasih terkecil pun, jika dilakukan dengan hati tulus, bernilai besar di mata Tuhan.
Mari kita renungkan, “Apakah kasihku selama ini lebih banyak menuntut daripada memberi?” Jika ya, inilah saatnya belajar mengasihi dengan kasih Kristus yang murni, kasih yang tidak mencari keuntungan sendiri.