Ada masa-masa dalam hidup di mana kita tidak hanya lelah secara fisik, tapi juga secara batin. Kita lelah menjadi kuat, karena terlalu lama menahan beban, terlalu sering pura-pura baik-baik saja, dan terlalu banyak dituntut untuk “tetap semangat” meski hati remuk. Mungkin kamu pernah berkata dalam hati, “Aku capek… Tapi aku harus tetap kuat.”
Tapi siapa bilang kamu harus selalu kuat?
Tuhan tidak pernah memerintahkan kita untuk mengandalkan kekuatan sendiri. Justru Dia mengundang kita untuk datang saat kita lelah. Dalam Matius 11:28, Yesus berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Bukan: “Datanglah kalau kamu kuat,” tapi: “Datanglah saat kamu letih.”
Sering kali kita merasa harus tegar demi orang lain keluarga, pelayanan, atau orang-orang yang melihat kita sebagai panutan. Tapi Tuhan tahu batas kita. Bahkan Yesus sendiri, saat di taman Getsemani, begitu hancur hingga berkata, “Jiwaku sangat sedih, seperti mau mati rasanya” (Markus 14:34). Yesus tahu bagaimana rasanya berada di titik terlelah. Dan di momen itu, Ia tidak menyembunyikannya, Ia datang kepada Bapa.
Kelelahan bukan tanda kegagalan iman. Kelelahan adalah tanda bahwa kita manusia, dan kita butuh Tuhan. Paulus menulis dalam 2 Korintus 12:9, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Artinya, Tuhan tidak menunggu kita jadi kuat untuk memakai dan menopang kita. Ia justru hadir di titik kelemahan kita.
Kalau kamu hari ini sedang kelelahan karena terus berusaha menjadi kuat untuk semua orang berhenti sejenak. Tarik napas. Datang ke hadirat Tuhan. Kamu tidak harus kuat sepanjang waktu. Tuhanlah kekuatanmu.
Jangan malu menangis. Jangan merasa gagal karena butuh istirahat. Iman sejati bukan tentang selalu kuat, tapi tentang tahu ke mana harus bersandar ketika lemah.
Tuhan, aku lelah. Aku sudah terlalu lama mencoba kuat dengan kekuatanku sendiri. Hari ini, aku datang pada-Mu. Peluk aku, topang aku, dan ajarku percaya bahwa kasih-Mu cukup. Aku tidak harus kuat, karena Engkau cukup bagiku. Amin.