Pernahkah kamu merasa tidak cukup layak untuk melakukan sesuatu yang besar bagi Tuhan? Merasa terlalu lemah, terlalu gagal, atau bahkan terlalu biasa? Jika iya, kamu tidak sendiri. Sepanjang Alkitab, Tuhan justru sering memakai orang-orang yang secara manusia tampak lemah untuk melakukan hal-hal yang besar. Bukan karena mereka hebat, tapi karena kuasa Tuhan dinyatakan dalam kelemahan.
Salah satu contoh paling kuat adalah Gideon. Saat Tuhan memanggilnya, Gideon langsung meragukan dirinya, “Ah Tuhanku, dengan apakah aku akan menyelamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan aku pun anak bungsu dalam keluargaku” (Hakim-hakim 6:15). Tapi justru itulah yang Tuhan cari: hati yang bergantung pada-Nya, bukan pada kekuatan sendiri.
Rasul Paulus juga mengalami hal serupa. Ia pernah memohon agar “duri dalam daging”-nya diambil, tetapi Tuhan menjawab, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Korintus 12:9). Paulus pun belajar bersukacita dalam kelemahan karena di sanalah kuasa Kristus bekerja maksimal.
Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak mencari orang paling kuat, paling pintar, atau paling sempurna. Dia mencari orang yang mau percaya dan taat, meskipun merasa tidak mampu. Ketika kita merasa tidak cukup, itulah saat yang tepat bagi Tuhan menunjukkan bahwa Dia cukup.
Kelemahan kita bisa menjadi sarana kekuatan-Nya. Ketika kita berkata, “Aku tidak bisa,” Tuhan bisa berkata, “Aku sanggup.” Dalam Filipi 4:13, Paulus berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Bukan karena Paulus kuat, tapi karena Tuhan yang memampukan.
Jadi, jika kamu merasa kecil, lemah, atau tidak layak, ingatlah bahwa kamu adalah calon terbaik untuk dipakai Tuhan. Biarkan kelemahanmu menjadi tempat di mana kuasa-Nya bersinar. Jangan tunggu jadi sempurna untuk taat, karena Tuhan justru mengubahkan lewat ketidakmampuan kita.