Di banyak belahan dunia, tanggal 25 Desember identik dengan suasana sukacita, lagu-lagu pujian, pohon natal, dan perayaan kelahiran Yesus. Namun, tidak semua orang Kristen ikut merayakan Natal. Sebagian memilih untuk tidak mengadopsi tradisi ini, bahkan menganggapnya tidak perlu atau tidak alkitabiah. Mengapa bisa begitu? Apakah mereka salah, atau justru lebih setia pada firman Tuhan?
Asal-Usul Perayaan Natal
Sebelum kita menilai sikap seseorang terhadap Natal, penting untuk memahami dulu dari mana asalnya. Alkitab tidak mencatat tanggal lahir Yesus secara spesifik, dan tidak ada perintah langsung untuk merayakan hari kelahiran-Nya. Perayaan Natal sebagai hari kelahiran Yesus mulai populer pada abad ke-4, ketika Kekristenan menjadi agama resmi di Kekaisaran Romawi.
Tanggal 25 Desember dipilih, kemungkinan besar, untuk menggantikan festival pagan Sol Invictus atau perayaan titik balik matahari musim dingin. Fakta ini membuat sebagian orang Kristen merasa bahwa Natal hanyalah hasil adaptasi budaya kafir dan bukan ajaran asli Alkitab. Ini menjadi salah satu alasan utama mengapa sebagian orang memilih tidak merayakannya.
Tidak Dilarang, Tapi Juga Tidak Diwajibkan
Roma 14:5-6 memberi kita prinsip yang sangat bijak: “Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting daripada hari yang lain, yang lain menganggap semua hari sama saja… Siapa yang berpegang pada hari tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan.” Ayat ini menekankan kebebasan hati nurani dalam hal-hal yang tidak secara langsung diperintahkan Tuhan. Jadi, memilih untuk merayakan atau tidak merayakan Natal adalah soal sikap hati, bukan soal benar atau salah mutlak.
Kristen yang tidak merayakan Natal seringkali berdiri di atas keyakinan bahwa ibadah sejati tidak tergantung pada tanggal atau tradisi, melainkan pada ketaatan sehari-hari kepada Kristus. Mereka ingin menjaga kemurnian ibadah tanpa dipengaruhi unsur-unsur budaya yang tidak berasal dari firman Tuhan. Ini bukan sikap anti-Yesus, melainkan usaha untuk tetap setia pada apa yang mereka pahami dari Alkitab.
Fokus yang Bisa Bergeser
Ada juga yang tidak merayakan Natal karena melihat bagaimana perayaan itu telah bergeser jauh dari makna kelahiran Kristus. Komersialisasi, konsumsi berlebihan, dan fokus pada hadiah seringkali mengalihkan perhatian dari inti Natal yang sesungguhnya: Inkarnasi Sang Firman (Yohanes 1:14). Bahkan dalam komunitas Kristen, ada risiko bahwa perayaan menjadi lebih tentang dekorasi daripada tentang Tuhan.
Yesaya 29:13 menggambarkan situasi serupa, “Bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.” Ayat ini menjadi pengingat bahwa perayaan luar tidak ada artinya jika hati kita tidak sungguh-sungguh tertuju kepada Tuhan.
Jadi, Apakah Salah Tidak Merayakan Natal?
Tidak. Selama sikap itu didasarkan pada kerinduan untuk menyembah Tuhan dengan benar dan bukan karena pemberontakan atau kebanggaan rohani, maka pilihan untuk tidak merayakan Natal adalah bagian dari kebebasan dalam Kristus. Sebaliknya, yang merayakan pun tidak boleh menghakimi mereka yang tidak merayakannya.
Kolose 2:16 juga berkata, “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat.” Ini menjadi fondasi bahwa hal-hal liturgis atau perayaan bisa berbeda di antara tubuh Kristus, namun kesatuan tetap bisa terjaga jika kita saling menghormati dan mengasihi.
Intinya: Kristus yang Utama
Merayakan atau tidak merayakan Natal bukanlah ukuran iman seseorang. Yang terpenting adalah apakah Kristus sungguh-sungguh hidup dan memerintah dalam hati kita setiap hari. Jangan sampai perdebatan soal tradisi mengaburkan kasih yang harusnya menjadi pusat Kekristenan.
Dalam Yohanes 4:23-24, Yesus berkata bahwa penyembah-penyembah yang benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. Ini bukan soal tanggal atau dekorasi, tetapi soal relasi yang hidup dengan Tuhan.