Ketika kita membaca kisah Paulus, sulit untuk tidak kagum pada transformasi hidupnya. Sebelum dikenal sebagai rasul yang penuh kuasa, Paulus adalah Saulus, seorang penganiaya jemaat. Ia bahkan hadir saat Stefanus dirajam, dan dengan penuh semangat mengejar orang-orang percaya untuk dipenjarakan (Kisah Para Rasul 8:1-3). Bayangkan, seorang yang sangat anti terhadap Injil, justru dipilih Tuhan untuk menjadi pemberita Injil terbesar di zamannya.
Pertemuannya dengan Kristus di jalan menuju Damsyik mengubah segalanya. Dalam sekejap, terang dari surga membuatnya buta secara fisik, tetapi justru membuka mata rohaninya. Ia mendengar suara Yesus berkata, “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” (Kisah Para Rasul 9:4). Dari titik itu, hidup Saulus tidak pernah sama lagi. Ia dibaptis, dipulihkan, dan menerima panggilan untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa.
Yang luar biasa, Tuhan tidak menunggu Saulus menjadi baik atau layak terlebih dahulu. Tuhan berdaulat memakai bahkan orang yang dianggap paling mustahil. Dari seorang yang ditakuti jemaat, Paulus menjadi orang yang justru membangun dan menguatkan mereka. Surat-suratnya kini menjadi dasar pengajaran gereja di seluruh dunia.
Kisah Paulus mengajarkan kita dua hal penting. Pertama, tidak ada masa lalu yang terlalu kelam untuk dipakai Tuhan. Jika Tuhan bisa mengubah seorang penganiaya menjadi pemberita, Ia juga bisa mengubah hidup kita, apa pun kesalahan atau luka yang pernah ada. Kedua, panggilan Tuhan lebih kuat daripada penolakan manusia. Banyak orang meragukan pertobatan Paulus pada awalnya, tetapi panggilan Tuhan membuktikan bahwa hidupnya memang diubahkan.
Hari ini, mungkin kita merasa tidak layak atau terbeban dengan masa lalu. Tetapi ingatlah, kasih karunia Tuhan jauh lebih besar dari kegagalan kita. Sama seperti Paulus, kita pun bisa dipakai menjadi saluran berkat dan saksi Kristus, bukan karena siapa kita, melainkan karena siapa Tuhan yang memanggil kita.
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau mampu mengubah hidup yang paling kelam sekalipun. Pakailah aku seperti Engkau memakai Paulus, agar hidupku menjadi kesaksian bagi orang lain. Biarlah kasih karunia-Mu nyata melalui perkataan dan tindakanku setiap hari. Amin.