Dalam pelayanan, pekerjaan, atau bahkan kehidupan sehari-hari, sering kali muncul pertanyaan ini dalam hati yang jujur: “Apakah aku sedang melakukan ini karena keinginanku sendiri, atau karena Tuhan memang mau memakainya?” Pertanyaan ini terlihat sederhana, tapi sebenarnya menyentuh dasar motivasi terdalam kita.
Amsal 16:9 berkata, “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” Di satu sisi, kita diberikan kebebasan untuk berpikir, merencanakan, dan bertindak. Tapi di sisi lain, jika kita benar-benar anak-anak Tuhan, langkah kita akan ditata oleh-Nya dan sering kali, bukan ke arah yang kita duga.
Masalahnya muncul saat kita terlalu ingin mengendalikan segalanya. Kita mulai merasa bahwa tanpa campur tangan kita, semua bisa kacau. Kita ingin memastikan semuanya berjalan “sesuai rencana,” padahal rencana siapa? Tuhan atau kita?
Yesus sendiri memberikan teladan yang luar biasa. Saat berada di taman Getsemani, Dia berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku; tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Matius 26:39). Ini adalah momen paling jujur antara kehendak pribadi dan penyerahan total kepada Allah. Bahkan Yesus, yang sempurna, menunjukkan bahwa kehendak Bapa harus lebih utama daripada dorongan manusiawi.
Tanda kita sedang dikendalikan oleh keinginan pribadi biasanya terlihat dari kegelisahan, tekanan batin, atau rasa frustrasi saat sesuatu tidak berjalan seperti yang kita inginkan. Sebaliknya, saat kita dipakai Tuhan, mungkin keadaannya tetap sulit, tapi ada damai yang melampaui logika.
Roma 12:2 memberi nasihat penting: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan yang sempurna.”
Mungkin hari ini waktunya berhenti sejenak dan bertanya, “Tuhan, apakah aku masih mencoba mengontrol segalanya? Atau aku benar-benar berserah dan membiarkan Engkau memakai hidupku?” Menyerah bukan berarti pasif, tapi justru aktif membiarkan Tuhan memimpin, bukan ego sendiri.