Rasa takut adalah hal yang sangat manusiawi. Kita semua pernah mengalaminya takut gagal, takut ditolak, takut kehilangan orang yang kita sayangi, takut akan masa depan yang tidak pasti. Tapi yang menjadi masalah bukan rasa takut itu sendiri, melainkan saat kita memilih untuk dikuasai olehnya.
Dalam 2 Timotius 1:7, Rasul Paulus menulis, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” Ini berarti bahwa ketakutan bukan berasal dari Tuhan. Ketika rasa takut mulai mengambil alih pikiran dan hati kita, itu bukan karena Tuhan menghendakinya. Justru, Tuhan memberikan roh yang kuat, roh yang menggerakkan kita untuk melangkah meskipun gemetar.
Lihat saja kisah Daud dan Goliat dalam 1 Samuel 17. Semua orang Israel gemetar menghadapi raksasa itu. Tapi Daud, seorang anak muda penggembala, berani maju bukan karena dia tanpa rasa takut, melainkan karena dia menolak membiarkan rasa takut menguasainya. Dia berkata dengan tegas, “Tuhan yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” (1 Samuel 17:37)
Iman sejati bukan tentang tidak pernah takut, tetapi tentang memilih percaya saat takut datang. Saat rasa takut menyerang, pertanyaannya bukan “bagaimana caranya supaya aku tidak takut?” tetapi “siapa yang aku percayai lebih besar dari ketakutanku?”
Yesus sendiri berkata dalam Yohanes 14:27, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu… Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Damai sejahtera itu bukan hasil dari situasi yang tenang, tapi dari kehadiran Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita.
Hari ini, apapun yang kamu takutkan, serahkanlah itu kepada Tuhan. Katakan, “Aku takut, Tuhan, tapi aku percaya kepada-Mu.” Biarkan iman menjadi jawabanmu atas ketakutan. Karena hidup yang dipimpin oleh iman akan selalu lebih kuat dari hidup yang dikuasai rasa takut.