Kita semua pernah membayangkan bagaimana seharusnya hidup berjalan. Karier yang stabil, pernikahan yang harmonis, pelayanan yang berdampak besar, atau impian-impian lain yang tampak mulia. Namun kenyataannya, hidup sering kali membawa kita ke arah yang berbeda. Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, hati kita bisa mudah kecewa, marah, bahkan mempertanyakan Tuhan.
Pemazmur juga pernah mengalami hal serupa. Dalam Mazmur 13:1-2, Daud berseru, “Berapa lama lagi, TUHAN, Kau lupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kau sembunyikan wajah-Mu terhadap aku?” Daud tidak sedang baik-baik saja, dan dia jujur mengungkapkan perasaannya pada Tuhan. Ini menunjukkan bahwa bahkan orang yang dekat dengan Tuhan pun bisa merasa hidupnya tidak sesuai ekspektasi.
Namun, Daud tidak berhenti di kekecewaan. Dalam ayat 6, ia berkata, “Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorai karena penyelamatan dari-Mu.” Inilah perbedaan antara mereka yang tenggelam dalam kekecewaan dan mereka yang tetap memilih percaya walau hidup tak ideal. Kepercayaan pada kasih setia Tuhan adalah jangkar ketika semua tampak melenceng dari rencana.
Yesus sendiri mengalami ekspektasi yang berbeda dari manusia. Orang-orang berharap Mesias akan datang sebagai raja yang gagah, memimpin pemberontakan melawan Romawi. Namun Yesus memilih jalan salib jalan yang tampak “gagal” di mata dunia. Tapi justru dari situ lahir keselamatan kekal bagi kita semua.
Saat hidup tak sesuai rencana, bisa jadi itulah momen Tuhan sedang menyusun sesuatu yang lebih baik dari harapan kita. Yeremia 29:11 tetap berlaku: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
Jika hari ini kamu merasa letih karena hidup tak berjalan sesuai impianmu, ingatlah: Tuhan tidak salah menulis kisah hidupmu. Percayalah pada Penulis yang tahu akhir dari cerita, bahkan sebelum kamu memulainya.