Banyak orang berbicara tentang kasih, tetapi tidak semua menghidupinya sesuai dengan yang Tuhan maksudkan. Kasih sejati tidak berpusat pada diri sendiri, melainkan mengutamakan kepentingan orang lain. Dalam 1 Korintus 13:4-5 tertulis, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.” Ayat ini menegaskan bahwa kasih yang benar selalu berorientasi untuk memberi, bukan mengambil.
Di dunia yang semakin individualis, kita sering melihat “kasih” yang penuh syarat. Orang mau mengasihi selama mendapat balasan, atau selama tidak dirugikan. Namun, kasih sejati seperti yang diajarkan Yesus adalah kasih yang rela berkorban tanpa menuntut imbalan. Yohanes 15:13 berkata, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Kasih Yesus adalah puncak kasih yang tidak egois, sebab Ia memberi diri-Nya bahkan untuk orang-orang yang belum tentu membalas kasih itu.
Kasih yang tidak egois membutuhkan kerendahan hati. Kita harus mau menempatkan kepentingan orang lain di atas keinginan pribadi. Filipi 2:4 mengingatkan, “Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Ini bukan berarti mengabaikan diri sendiri, tetapi memahami bahwa hidup kita dipanggil untuk menjadi berkat bagi sesama.
Kasih sejati juga teruji dalam hal mengampuni. Mengampuni berarti melepaskan hak untuk membalas, bahkan ketika kita merasa benar. Ini sulit dilakukan jika hati kita masih dipenuhi ego. Tetapi ketika kita belajar mengasihi seperti Kristus, kita menemukan bahwa mengampuni justru membawa kelegaan dan damai sejahtera.
Mungkin di sekitar kita ada orang yang sulit kita kasihi karena perbedaan, kesalahan masa lalu, atau sifat yang menjengkelkan. Di saat seperti itu, kita bisa memilih untuk melihat mereka dengan mata Kristus. Tuhan, ajar aku untuk mengasihi dengan tulus tanpa pamrih. Singkirkan ego dalam hatiku yang membuat kasihku terbatas. Tolong aku untuk menempatkan kepentingan orang lain di atas keinginanku sendiri, dan belajar memberi seperti Engkau yang telah memberi segalanya bagiku.