Pernahkah kamu bertanya dalam hati: “Apakah ini keinginanku sendiri, ataukah kehendak Tuhan?” Pertanyaan ini sering muncul saat kita sedang mengambil keputusan penting baik soal pekerjaan, hubungan, pelayanan, maupun masa depan. Dan memang, membedakan antara keinginan pribadi dengan kehendak Tuhan bukanlah hal yang mudah. Tapi di situlah perjalanan iman kita diuji dan didewasakan.
Yeremia 17:9 mengingatkan, “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” Hati manusia bisa menipu, bahkan terhadap dirinya sendiri. Apa yang kita rasa “baik” belum tentu berasal dari Tuhan. Kadang kita menyebut “Tuhan yang suruh” padahal itu hanya topeng dari ambisi pribadi.
Kehendak Tuhan seringkali bertabrakan dengan kenyamanan. Lihat saja Yesus di taman Getsemani. Dalam Lukas 22:42, Ia berkata, “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Bahkan Yesus pun berdoa agar kehendak Bapa yang jadi, bukan keinginan-Nya sebagai manusia.
Menjalani kehendak Tuhan tidak selalu menyenangkan di awal, tapi selalu menghasilkan buah kekekalan. Sementara keinginan pribadi bisa memberi kepuasan instan, tapi seringkali kosong pada akhirnya. Maka, kita perlu belajar hidup dalam penundukan: menundukkan keinginan kita, dan membiarkan kehendak Tuhan yang memimpin.
Caranya? Lewat doa yang jujur, lewat Firman yang kita renungkan, dan lewat ketenangan hati saat damai sejahtera Allah memimpin. Kolose 3:15 berkata, “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu…” Jika kita sungguh mau taat, Tuhan tidak akan membiarkan kita tersesat dalam pilihan.