Dunia kita semakin bising. Dari notifikasi yang terus berdentang, opini di media sosial, suara ambisi yang menuntut pencapaian, sampai kekhawatiran yang terus membisikkan “bagaimana kalau gagal?” semuanya seakan bersaing untuk mendominasi perhatian kita. Di tengah kebisingan itu, bagaimana kita bisa mendengar suara Tuhan?
Tuhan tidak berteriak. Ia berbicara dalam keheningan, seperti saat Elia mencari Dia di gunung Horeb. Dalam 1 Raja-raja 19:12 tertulis, “Sesudah gempa itu datanglah api, tetapi TUHAN tidak ada dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa.” Suara Tuhan tidak datang dalam keramaian, tetapi dalam kelembutan yang sunyi.
Tantangannya adalah, hidup kita jarang sunyi. Kita sering terburu-buru, sibuk, dan kelelahan. Maka, untuk bisa mendengar Tuhan, kita harus memilih untuk menenangkan diri. Mungkin bukan soal mematikan semua gangguan luar, tapi menata ulang prioritas hati.
Yesus sendiri sering menyendiri untuk berdoa, seperti tercatat dalam Markus 1:35, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” Jika Yesus saja butuh sunyi, apalagi kita?
Mendengar suara Tuhan bukan perkara mistis. Itu bisa terjadi saat kita membaca Firman, saat Roh Kudus menguatkan hati, atau saat damai sejahtera muncul tanpa sebab logis. Yohanes 10:27 berkata, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.” Tuhan ingin berbicara, tetapi kita yang perlu meluangkan ruang untuk mendengar.
Hari ini, ambillah waktu sejenak. Matikan notifikasi. Diamlah. Buka hati. Mungkin bukan suara keras yang akan kamu dengar, tetapi arah, penghiburan, atau dorongan kecil yang justru menyelamatkan.