Menunggu bukan perkara mudah. Kita hidup di zaman serba instan, di mana makanan bisa datang dalam hitungan menit dan informasi hanya sejauh sentuhan jari. Tapi ada hal-hal dalam hidup yang tidak bisa dipercepat: jawaban doa, pemulihan hubungan, panggilan hidup, atau janji Tuhan yang belum terlihat wujudnya.
Tuhan sering membentuk karakter kita bukan dalam momen jawaban, tapi dalam proses menanti. Mazmur 37:7 berkata, “Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya.” Menanti bukan hanya soal waktu, tapi soal sikap hati.
Sayangnya, kita sering mengisi masa tunggu dengan keluhan: “Kenapa belum juga?” “Kapan giliranku?” Padahal, keluhan hanya memperbesar rasa tidak sabar, sementara keheningan dan kepercayaan memperkuat iman. Dalam Roma 12:12 kita diingatkan, “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa.” Sabar bukan berarti pasrah, tapi tetap percaya walau belum melihat.
Menunggu tanpa mengeluh berarti menyerahkan kendali kepada Tuhan. Itu seperti berkata, “Tuhan, aku tidak paham waktumu, tapi aku percaya Engkau setia.” Dalam Yesaya 40:31 dijanjikan, “Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya…”
Mungkin kamu sedang menanti saat ini jawaban atas doa yang lama, pintu yang belum terbuka, atau penyertaan Tuhan dalam situasi yang sulit. Jangan padamkan imanmu dengan keluhan. Percayalah, Tuhan bekerja dalam diam, dan waktunya selalu tepat.