Kita hidup di zaman di mana semuanya serba cepat: makanan cepat saji, belanja instan, bahkan hiburan hanya butuh satu klik. Tapi sayangnya, pola pikir ini sering terbawa ke dalam hubungan kita dengan Tuhan. Kita berharap jawaban doa juga secepat WiFi. Kalau belum dijawab seminggu, kita mulai bertanya-tanya, “Tuhan, di mana Engkau?”
Padahal, Alkitab penuh dengan kisah orang-orang yang menunggu. Abraham harus menunggu 25 tahun untuk melihat janji Tuhan soal anak tergenapi (Kejadian 21:5). Musa menunggu 40 tahun di padang gurun, sebelum akhirnya memimpin bangsa Israel. Bahkan Yesus sendiri menunggu 30 tahun untuk memulai pelayanan-Nya.
Tuhan tidak pernah terburu-buru. Tapi Dia juga tidak pernah terlambat. Dalam 2 Petrus 3:9 tertulis, “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian.” Yang kita lihat sebagai keterlambatan, seringkali justru adalah proses pembentukan.
Masalahnya, kita tidak suka proses. Kita ingin hasil. Tapi Tuhan lebih tertarik membentuk karakter kita daripada hanya memberi keinginan kita. Dia ingin kita belajar bersabar, percaya, dan taat bahkan saat kita tidak mengerti waktu-Nya.
Jadi jika kamu sedang menunggu, jangan putus asa. Mungkin jawaban belum datang karena Tuhan sedang membentuk kamu jadi pribadi yang siap menerima jawaban itu. Dalam waktu-Nya, yang tepat dan sempurna, Dia akan menjawab.