Sering kali kita berpikir bahwa Tuhan hanya berkenan pada persembahan yang besar dan berharga. Kita membandingkan diri dengan orang lain yang terlihat lebih mampu memberi, lalu merasa tidak layak. Padahal, Tuhan tidak melihat besar kecilnya persembahan kita, tetapi hati yang memberinya. Yang Tuhan rindukan adalah sikap hati yang penuh kasih, taat, dan berserah.
Dalam Roma 12:1, Paulus menulis, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Artinya, Tuhan lebih menginginkan seluruh hidup kita, pikiran, perbuatan, dan hati daripada sekadar benda atau materi.
Apa saja yang bisa kita persembahkan kepada Tuhan?
- Hati yang tulus. Dalam Mazmur 51:17 tertulis, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” Tuhan berkenan pada hati yang mau diubahkan, bukan pada formalitas semata.
- Waktu dan perhatian kita. Dunia sering mencuri fokus kita, tetapi waktu yang kita luangkan untuk berdoa, membaca firman, dan melayani adalah persembahan berharga bagi Tuhan.
- Talenta dan kemampuan. Setiap orang diberi karunia berbeda. Saat kita memakai talenta itu untuk kemuliaan Tuhan, kita sedang mempersembahkan sesuatu yang indah.
- Ketaatan dalam keseharian. Tindakan sederhana seperti berlaku jujur, mengampuni, atau membantu orang lain adalah bentuk persembahan nyata.
Kisah janda miskin dalam Markus 12:43-44 memberi pelajaran berharga. Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi perempuan ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” Bukan jumlahnya yang membuat Tuhan terkesan, tetapi ketulusan hati.
Tuhan tidak menuntut kita memberi sesuatu yang tidak kita punya. Yang Ia rindukan adalah hati yang rela. Bahkan doa syukur di tengah kesulitan, pelayanan kecil, atau pengorbanan waktu adalah persembahan yang harum di hadapan-Nya.
Mari kita bertanya pada diri sendiri: “Apa yang bisa aku persembahkan kepada Tuhan hari ini?” Mungkin bukan harta yang banyak, tetapi hidup yang mau dipakai-Nya adalah persembahan terbaik. Tuhan tidak mencari kesempurnaan, Ia mencari hati yang setia.