Pernahkah kamu merasa kosong setelah berjam-jam scrolling media sosial? Padahal kamu tertawa melihat meme, merasa terhibur dengan video lucu, bahkan ikut “mengaminkan” ayat-ayat motivasi. Tapi begitu layar dimatikan, jiwa tetap terasa sepi.
Kita hidup di era virtual, tapi tantangan kita tetap nyata. Banyak dari kita lebih mengenal wajah selebriti TikTok daripada isi hati sahabat sendiri. Kita lebih sering update story daripada memperbarui hubungan kita dengan Tuhan.
Bukan berarti teknologi itu salah. Tapi ketika dunia maya menggantikan relasi nyata termasuk relasi kita dengan Tuhan, di situlah bahaya mengintai. Hati mulai kosong, pikiran cepat lelah, dan roh kita pelan-pelan kering.
Tuhan tidak menciptakan manusia untuk hidup lewat layar. Ia merindukan persekutuan pribadi, bukan hanya likes dan notifikasi. Mazmur 63:2 berkata, “Jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair.”
Kita tidak bisa mengisi kekosongan rohani dengan hiburan digital. Tidak ada jumlah video inspiratif yang bisa menggantikan waktu teduh pribadi. Hanya Tuhan yang bisa memuaskan jiwa yang haus.
Yesus berkata, “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” (Yohanes 7:37). Dunia virtual bisa menyenangkan, tapi hanya Tuhan yang bisa mengisi kekosongan terdalam jiwa kita.
Mungkin saatnya kita detox sejenak. Bukan berhenti total dari teknologi, tapi kembali menjadikan Tuhan pusat perhatian. Bukan hanya buka HP tiap pagi, tapi buka hati lebih dulu kepada-Nya.