Kita sering diajarkan tentang pentingnya mengampuni orang lain, dan itu memang benar. Tapi ada satu pengampunan yang sering kita lupakan: mengampuni diri sendiri. Tidak sedikit orang Kristen yang berkata, “Aku tahu Tuhan sudah mengampuni aku, tapi aku masih belum bisa memaafkan diriku sendiri.” Luka batin, penyesalan, rasa bersalah semuanya bisa terus menghantui, bahkan setelah bertobat dan menerima pengampunan Tuhan.
Namun, mari kita renungkan ini: jika Tuhan, yang kudus dan sempurna, sudah mengampuni kita, lalu siapa kita hingga menolak untuk mengampuni diri sendiri? Dalam 1 Yohanes 1:9 dikatakan, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Itu janji, bukan kemungkinan. Artinya, pengampunan Tuhan bersifat mutlak bagi mereka yang datang dengan hati yang hancur dan bertobat.
Masalahnya, banyak dari kita hidup dengan beban masa lalu. Kita menghukum diri sendiri, mengulang kesalahan di kepala, dan merasa tidak pantas dipakai Tuhan. Padahal, kasih karunia bukan hanya untuk menyelamatkan, tapi juga untuk memulihkan. Tuhan tidak sekadar mengampuni, Ia juga memulihkan identitas dan masa depan kita.
Mazmur 103:12 berkata, “Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.” Jika Tuhan sudah membuang dosa kita sejauh itu, mengapa kita terus menyimpannya dalam hati? Mungkin kita takut jatuh lagi. Tapi Tuhan tidak memanggil kita untuk hidup dalam rasa takut dan tuduhan, melainkan dalam kasih dan kebebasan. Roma 8:1 menegaskan, “Demikian sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.”
Mengampuni diri sendiri bukan berarti mengabaikan kesalahan, tetapi menerima bahwa Tuhan lebih besar dari dosa kita. Ini tentang berdamai dengan masa lalu dan mempercayai karya Kristus yang telah menyucikan kita sepenuhnya. Kalau kita terus menolak diri sendiri, bagaimana kita bisa melangkah maju dalam rencana-Nya?
Mungkin kamu pernah gagal, menyakiti orang, atau membuat keputusan yang salah. Tapi Tuhan berkata, “Lihat, Aku menjadikan segala sesuatu baru” (Wahyu 21:5). Itu termasuk kamu. Bukan setengah baru, tapi sepenuhnya.
Tuhan, aku tahu Engkau telah mengampuniku. Sekarang, tolong aku untuk melepaskan rasa bersalah yang selama ini membelenggu. Ajarku melihat diriku seperti Engkau melihatku dikasihi, ditebus, dan dipulihkan. Aku mau berjalan dalam kebebasan kasih karunia-Mu. Amin.