Banyak orang Kristen dengan mudah menyebut Bapa dan Yesus dalam doa dan percakapan iman, tetapi lupa bahwa ada Pribadi Ketiga dalam Tritunggal yang hadir setiap hari: Roh Kudus. Padahal, tanpa Roh Kudus, kita tidak bisa memahami firman, menguatkan diri dalam godaan, atau bertumbuh dalam iman.
Yesus sendiri berkata bahwa Ia harus pergi agar Penolong datang kepada kita (Yohanes 16:7). Istilah “Penolong” di sini berasal dari kata Yunani Parakletos, yang artinya bukan hanya penolong, tetapi juga penghibur, pembela, dan penasihat. Ini menunjukkan bahwa peran Roh Kudus begitu aktif dan pribadi dalam hidup setiap orang percaya.
Namun sering kali, kita mencoba menjalani hidup Kristen dengan kekuatan sendiri. Kita lupa meminta pimpinan-Nya, atau bahkan tidak menyadari kehadiran-Nya. Kita membaca Alkitab seperti membaca buku biasa, berdoa seperti rutinitas, dan melayani dengan mengandalkan logika manusia tanpa sadar bahwa semua itu hampa tanpa kuasa Roh Kudus.
Roh Kudus bukan sekadar “energi rohani” atau “perasaan damai.” Ia adalah Allah sendiri yang tinggal di dalam kita. Dalam Yohanes 14:26, Yesus menjelaskan bahwa Roh Kudus akan mengajarkan segala sesuatu dan mengingatkan kita akan semua yang telah Ia katakan. Artinya, setiap kali kita rindu firman itu hidup, kita perlu melibatkan Roh Kudus.
Tanda kehadiran Roh Kudus bukan selalu berupa manifestasi spektakuler, tetapi bisa tampak dalam buah Roh (Galatia 5:22-23): kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, dan seterusnya. Itu semua hanya bisa bertumbuh jika kita peka dan membuka ruang bagi-Nya bekerja.
Hari ini, mari kita akui bahwa kita sering melupakan Penolong yang setia ini. Mari belajar untuk melibatkan Roh Kudus bukan hanya dalam pelayanan besar, tapi juga dalam keputusan kecil, dalam pergumulan pribadi, bahkan dalam kesunyian doa yang paling sederhana.